Why I Love K-Pop


K-pop/ Korean Pop adalah jenis musik gabungan antara tarian dan electropop yang berkembang di Korea Selatan (K-Pop Star Hunt-tvN)

 

Ketika novel saya My Seoul Escape terbit 4 tahun lalu, saya tidak pernah mengira fenomena Korea akan jadi sehebat saat ini. Banyak pembaca My Seoul Escape bertanya pada saya apakah saya akan menulis novel yang bercerita tentang Korea lagi? Saat itu saya menjawab tidak. Tapi akhirnya saya tergoda juga untuk menulis novel yang bercerita tentang Korea. Mungkin karena timingnya yang pas, ya semua orang berpikir begitu. Atau bahasa kerennya aji mumpung J. Fenomena Korea bukan hanya menular pada Boys dan Girls Band tapi juga pada karya novelisnya, bisa disebut begitu.

Saya mengenal Korea sejak awal 2000-an saat drama Korea mewabah. Namun saya mengenal K-Pop justru setelah My Seoul Escape diterbitkan. Jadi kira kira sudah 4 tahun saya kenal K-Pop. Berawal dari video teaser debut sebuah boyband Korea yang memperlihatkan lima wajah imut yang menggemaskan yang pada akhirnya saya tahu kalau Boyband itu bernama SHINee, setelah itu saya mulai kenal saudara saudaranya, seperti Super Junior, Big Bang, DBSK, Girls Generation, Wonder Girls, dll.

K-Pop benar benar langsung membuat saya jatuh cinta karena kembali membuat saya mengingat masa masa culun saya waktu mengenal NKOTB hingga begitu tergila gila pada N’SYNC. Irama lagu yang membuat siapa pun yang mendengar ingin bergoyang, ditambah juga dengan suguhan tarian yang energik dari pria pria muda rupawan atau gadis belia nan cantik dan bening, sungguh merupakan sebuah hal yang menarik dan menghibur. Ibaratnya bertemu mereka bagaikan menemukan oase pelepas dahaga di padang gurun (sedikit lebay tak apalah) tapi memang begitu kenyataannya.

Tapi K-Pop bukan sekedar irama lagu yang ngebeat, tarian yang energik, pria atau wanita yang menawan, tapi lebih dari itu. Kerja keras. Selama 4 tahun mengenal K-Pop saya pun perlahan tahu bahwa para artis tersebut (kerap disebut idol) tidak dengan mudah mencapai semua itu. Training berat bertahun tahun harus mereka jalani. Berbagai audisi harus mereka lalui. Dan masih harus menunggu tanpa kepastian, didebutkan atau tidak. Menyakitkan memang.

Saya cukup kaget waktu tahu bahwa mereka melakukan training dimulai dari usia yang masih sangat belia. Pada umumnya sekitar usia 10 tahun. Dan bila sukses mereka baru didebutkan jadi artis di usia minimal 15 atau 16 tahun bahkan ada yang lebih dari itu. Jadi bayangkan berapa tahun yang harus mereka lalui untuk pelatihan.

Pelatihan mereka meliputi suara (vocal), tari, bermain musik, dan akting. Jadi jangan mengira bahwa para boyband itu hanya bisa menari dan jual tampang. Karena sebagian besar dari mereka bisa main musik dan sebagian lagi adalah composer dan lyricist yang amazing, contoh kecilnya G-Dragon (GD/Kwon Ji Yong) leader Big Bang yang membuktikan diri sebagai pencipta lagu handal dan jenius di dunia Kpop, ada juga Jung Yong Hwa, leader-grup instrument CN Blue yang juga terkenal sebagai pencipta lagu handal, dan ada Donghae, Sungmin, Ryewook, Henry dari Super Junior yang juga selalu menyumbangkan lagu mereka dalam album Super Junior, dan masih banyak lagi yang tak bisa disebut satu persatu.

Pertanyaannya kenapa begitu banyak boy/girlband di Korea? Ini bukan trend. Boyband di Korea sudah berkembang sangat lama, mungkin tidak lama setelah demam NKOTB, saya tidak tahu persis, yang pasti mereka juga mungkin terpengaruh dari fenomena NKOTB waktu itu. Saya tahu ada Boyband di awal 90-an seperti Seotaiji and The Boys, Roora, hingga masa pertengahan 90-an seperti HOT, GOD, Shinwa, dll.  Bernyanyi sambil menari sudah tidak asing di negeri itu. Bahkan tarian sudah seperti budaya di sana.

Pertanyaan berikutnya kenapa K-Pop bisa menginvasi dunia? Jawabannya bisa jadi karena konsistensi mereka. Di sana Boyband bukan trend tapi konsistensi. Namun konsistensi tentu dengan perkembangan musik. Ini yang membuat mereka mampu menaklukan dunia.

Menyukai K-Pop bukan berarti kita tidak cinta produk dalam negeri. Saya masih sangat menyukai Kahitna, Yovie n Nuno, Rossa, Afgan, Agnes Monica, dan Sheila on 7. Menyukai sesuatu yang ‘asing’ dan mengambil hal baik dari itu tentu saja bukan sebuah kesalahan atau pengkhianatan. Apakah mendengar lagu produk Amerika membuat kita dicap sebagai pengkhianat dan tidak nasionalis? Tidak bukan?  Kita selalu menyukai musik Amerika, kita mencintai Lady Gaga, mengaggumi Bruno Mars, tergila gila pada Katy Perry, memuja Justin Bieber tapi kenapa ketika kita memuja dan mengidolakan produk sesama bangsa Asia kita sering di anggap tidak nasionalis, aneh, lebay, katro, maho, dll

Terlalu burukkah bila kita menyukai produk sesama bangsa Asia? Bukankah itu berarti kita justru telah menempatkan diri kita, bangsa kita, kaum kita, di kelas ke sekian dalam kasta entertainment dunia? Secara tidak langsung mengakui bahwa bangsa Asia tidak akan mungkin mengalahkan sang Adidaya? Sentimen seperti  ini yang menutup kepercayaan diri sebagaian anak bangsa untuk berkembang dan maju. Karena selalu tidak ada pengakuan dari bangsa sendiri…oke ini hanya sebagian curahan hati atau bisa dibilang jeritan hati.

Kembali lagi, apa yang bisa diambil dari K-Pop? Tariannya? Musiknya? Saya hanya ingin mengatakan bahwa kerja keras mereka itu yang membuat saya semakin mencintai jenis musik ini. Mereka bukan artis karbitan. Bukan produk trend. Tetapi mereka adalah hasil kerja keras bertahun tahun. Penantian yang panjang. Keringat dan air mata. Sekali saja anda mengikuti kisah perjuangan mereka, lepaskan imej glamor mereka, lepaskan penampilan ‘gaya’ mereka, cobalah mengenal mereka lebih dekat dan kau akan mengerti (mengutip lagu Petualangan Sherina).

Novel yang sedang say tulis ini hanya fiksi tentu saja, saya buat berdasarkan pengenalan saya pada dunia K-Pop dan Idol selama 4 tahun. Hasil dari menonton kisah perjuangan mereka, aksi menghibur mereka lewat banyak variety show, mengikuti berita mereka, mengupdate karya mereka, dan kadang menangis haru melihat konser mereka di luar negeri karena merasa dunia seperti berbalik. Melihat orang Asia di atas panggung dan melihat orang Eropa dan Amerika bersorak dan menangis dari tempat duduk penonton. Goosebumps!

Banyak teman saya yang mengatakan bahwa saya terlalu tua untuk menyukai K-Pop. Hey…tidak ada batasan usia untuk menyukai satu jenis musik. Anggapan di luar sana bahwa penyuka K-Pop adalah ABG itu salah besar. Mungkin benar sebagian warga asli K-Pop adalah ABG, tapi fansnya bukan semata para ABG dan remaja. Saya dan sebagian warga non-ABG berhak juga untuk menyukainya.

 

Yogya, 26 Februari 2012

 

 

 

Advertisements
This entry was posted in catatanku. Bookmark the permalink.

6 Responses to Why I Love K-Pop

  1. Pingback: Why I Love K-Pop « superagassi

  2. Karra says:

    woaaaahhhh… Kak Sophie daebbak…….. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s